Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 November 2011

kasih tak sampai

jemari tangannya menari diatas secarik kertas putih dengan penuh untaian lukisan kata-kata pena yang dia sebut-sebut dalam benaknya. sulit terucap, namun mudah diutarakan dengan tarian pena dalam genggaman. terpikir sekilas apa yang membuat dirinya selalu mengurung diri, menyembunyikan keinginan dan rahasianya yang selama ini telah ia pendam sendiri. mengenang masa remaja akhir beranjak dewasa ini.

*** 

dimasa silam akrab disapa nida bahagia saat sisa-sisa waktunya ketika ia habiskan semasa sekolah. awal pengenalan dengan salah satu teman lawan jenisnya. singkat sekejap hanya sepekan mereka akrab satu sama lain. terlebih pula saat membahas program kerja osis yang kebetulan satu organisasi dan sie kehumasan. heran sempat terbayang, cepat haqy sapaan akrabnya dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah baru yang ia pijak akhir tahun ini. haqy siswa baru pindahan dari luar kota yang disambut hangat oleh keluarga besar sekolah barunya. dimana nida gadis manis nan pandai menimba ilmu dan mengukir prestasi disitu. setelah sekarang akhirnya ia memilih bekerja disalah satu perusahaan swasta di ibukota, sesaat sebelumnya ia bersekolah di suatu kota baru bagi hidupnya saat itu. haqy bukanlah aktif diorganisasi sekolah melainkan di masyarakat juga banyak yang mengenalinya. mereka tanpa tersadar selalu bersama meski tidak ada janji ataupun berhadap wajah. seiring bergulirnya masa, sekolah memberikan kesempatan untuk mengasah kepandaian mereka hingga diikutsertakan dalam sebuah perlombaan bergengsi yang menuntutnya untuk terjun langsung kedalam penelitian sebuah pengamatan sosial. pendapat-pendapat saling dilontarkan untuk saling tukar anggapan bagaimana kepastiannya sebagai penunjang bahan utama dalam pengamatan. selang waktu berganti sejenak hening akhirnya mereka menjumpai jalan utama dalam keputusannya untuk menelusuri pedalaman pedesaan yang dipandang sebelah mata oleh pegawai otonomi daerah setempat akibat terpencil dari keramaian dan sedikitnya keluarga yang menetap.

*** 

ingatan itu masih ada di hati nida, dimana masa-masa bersama teman-teman seusianya. terpenting haqy, teman seperjuangan nida selama mengukir prestasi.apa yang dirasakan nida haru pilu membuat seisi rumah dan kerabatnya kebingungan, sikap itu berubah dalam kedipan mata, dulu periang seolah tanpa beban kini murung dan pendiam.

*** 

dengan bekal kepandaian mereka mengantongi restu dan doa dari keluarga besar sekolah serta orang-orang terdekatnya sudah lebih dari cukup baginya sebagai bekal selama di pedalaman desa. sepanjang perjalanan terhening apa yang ada di benak haqy seketika nida menanyakan keadaannya. terpecah sudah pikiran yang membuat dirinya khawatir kebingungan akan ketinggalan mata pelajaran di sekolah. secara siswa hitam manis yang belum genap satu tahun menetap di kota. haqy belum mengakrabi seutuhnya kebiasaan di tempat barunya.

*** 

sedetail mungkin kenangan itu terbayang dalam nida disaat haqy mempercayai sebagai teman share baginya. nida terus terbayang meski banyak kegiatan disela pekerjaannya. terbukti akan foto-foto bersama teman-teman dimasa sekolah dulu, terlebih lagi gambar haqy pun ikut meramaikan hiasan kamarnya. wajahnya selalu terpampang keceriaan saat bersama temannya. sekarang sulit dan tidak mungkin bertemu kangen diwaktu yang sama berbarengan berkumpul.

*** 

setibanya di pedalaman desa terpencil di sudut keramaian kota yang di tuju nida dan haqy sebagai pusat pengamatannya. terpejam sekejap mereka ternganga melihat keindahan panorama yang masih asri, bak tak terjamahi oleh tangan-tangan usil penduduk setempat. warga pedesaan bertanya-tanya gerangan apa yang membawa orang luar masuk ke tempatnya, ketus tokoh masyarakat di kerumunan warganya. tanpa berpikir panjang mereka menjelaskan maksud kedatangannya di desa tersebut. akhirnya pengamatan selesai setelah sekian lama, mereka pulang kembali untuk menyerahkan hasil pengamatan sosialnya kepada panitia perlombaan sebagai hasil pengamatan mereka selama ini. perlombaan telah selesai namun karena kemenangannya mereka terus melewati hingga ketingkat nasional. mereka di jadikan duta kemasyarakatan yang membawa pedesaan terpencil menjadi desa wisata saat ini. kebanggaan mereka terus menggebu ketika menjadi perwakilan indonesia untuk perlombaan di tingkat dunia. dengan pengangkatan desa wisata, akhirnya pegawai otonomi daerah setempat pun terketuk hatinya untuk peduli dan menjaga kelestariannya.

*** 

teman dekat nida berpikir bagaimana agar ia kembali periang seperti dulu, nida bagaikan daun kering yang terhempas akan angin yang menyapunya.  alka berusaha mencari apa penyebab nida berubah hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk memberikan kesempatan alka membaca isi hati yang sebenarnya sering ia luapkan dalam tulisan indah di diarynya 
" dear diary.....
sungguh indahnya dunia saat ku tatap wajahnya, kusadari isi curahanku seperti lirik lagu nicky tirta dan vanessa angel "cintaku tak pernah memandang siapa kamu, tak pernah menginginkan kamu lebih, dari apa adanya dirimu selalu....
cintaku terasa sempurna karena hatimu, slalu menerima kekuranganku ....." namun, kini kau menghilang. dan hingga saat inipun. sampai kapan ku pendam rasa ini ?"
alka tahu benar curahan nida dan ia berusaha menghiburnya.meski sejujurnya alka tahu nida hanya terhibur belaka tuk membuat diri alka puas akan hiburan yang dilontarkan. nida berterima kasih kepada alka dengan dengan hiburannya yang sesaat dan sedikit garing namun, ia juga tak ingin hatinya terus bersedih akan lamunan dirinya. hingga saat sesekali nida pun berusaha terus meluangkan waktu kosong untuk ia tuturkan dengan sahabta lama yang tak bosan menemaninya.

Selasa, 13 September 2011

alone

 setiap hari selama bulan ramadhan aku selalu mengurung diri. entah mengapa hari-hari aku jalani hanya bersama adikku. tak heran memang dari tahun ke tahun selama ramadhan selalu sepi tanpa orang tua yang menemani.
  Terkadang sempat berfikir bahwa orang tua jauh dari anaknya, namun mereka juga karena terdorong ekonomi. meskipun sulit untuk dilakukan mau tidak mau harus meninggalkan anaknya, untuk pergi merantau mengadu nasib di ibukota. tak sadar aku memandang tetangga atau teman disekitar rumah yang mungkin dapat menjalani hari-hari selama puasa bersama keluarga mereka.
  Rasa marah mungkin ada ketika aku tersentak melihat mereka yang berbahagia, sedangkan kami tidak. dari sahur hingga sahur lagi semuanya kami jalani sendiri, sampai kegiatan ibadahpun begitu. mungkin banyak orang yang mengatakan hal itu merupakan sebagai suatu kemandirian seseorang yang mengarah kedewasaan. tetapi anak mana yang mau jauh dari keluarga apalagi di bulan yang penuh berkah ini.
Sebagai anak, mau tidak mau kita harus jalani semuanya sendiri, meski sepi namun kami tetap bersyukur karena masih dapat bertemu dengan keluarga. ya walaupun hanya setahun sekali.